PUASA SYAWAL ENAM HARI, Sunnah atau Bid’ah?

FATAWA UMAR HUBEIS

PUASA SYAWAL ENAM HARI, Sunnah atau Bid’ah?

Pertanyaan:

“Apa hukum puasa Syawal yang enam hari itu? Wajib, sunnah, atau malah bid’ah? Bagaimana pula bila puasa itu dilakukan secara berturut-turut (mutatabi’) selama enam hari?

Jawab:

Umat Islam di Indonesia menganggap puasa enam hari pada bulan Syawal sesudah berlalunya bulan Ramadhan itu adalah sunnah muakkadah, karena puasa wajib itu hanya di bulan Ramadhan saja. Alasan mereka adalah sebuah hadits Nabi saw. berikut.

Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan dia puasa dahr.” (HR. Muslim)

Puasa dahr adalah puasa tiap hari atau tiap dua hari sekali. Perhitungannya adalah: 30 hari Ramadhan ditambah 6 hari Syawal = 36 hari x 10 kali pahala = 360, yaitu jumlah hari dalam setahun.

Adapun cara pelaksanaannya boleh secara mutatabi’ (berturut-turut) karena lebih afdhal, tetapi boleh juga tidak secara mutatabi’, yaitu dilaksanakan pada permulaan, pada pertengahan dan pada akhir Syawal, karena lafaz haditsnya ‘aam (umum), tidak ditentukan cara atau waktu pastinya dalam bulan Syawal. Inilah pendapat Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan lainnya.

Namun, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah serta beberapa lainnya menganggap puasa itu bukan sunnah, karena tiga alasan:

Pertama, bagi mereka hadits tersebut belum sah (tiap hadits selain sah sanadnya juga harus sah matannya).

Kedua, Nabi dan para sahabatnya belum pernah mengerjakannya.

Dan ketiga, dikhawatirkan akan menimbulkan pengertian di kalangan masyarakat bahwa puasa enam hari itu merupakan terusan dari puasa wajib Ramadhan.

Maka dari itu mereka menganggap puasa enam hari bulan Syawal ini sebagai bid’ah idhafiyah. Puasa adalah ibadah, karena itu janganlah ditentukan waktunya kalau memang tidak ada ketentuan dari Nabi. Keterangan ini didasarkan atas belum sahnya matan hadits tersebut.

Di dalam kitab Bidayatul Mujtahid (Ibnu Rusyd) disebutkan bahwa Imam Malik memakruhkan puasa itu, karena dikhawatirkan menimbulkan kesalahpahaman orang, dikira puasa enam hari itu adalah lanjutan dari puasa wajib, atau karena tidak sampai padanya kabar hadits atau tidak menganggap hadits itu sebagai hadits shahih. Inilah yang lebih azh-har (nyata), demikian akhir keterangan itu.

Kami menyetujui pendapat Ibnu Rusyd, penulis kitab Bidayatul Mujtahid itu, bahwa hadits itu belum sah menurut Imam Malik. Sebab, beliau telah menyelidiki kenyataan pelaksanaannya di kota Madinah, tempat dimana Nabi saw. dan para sahabatnya serta para tabi’in hidup. Beliau tidak memperoleh kabar tentang adanya realisasi puasa itu. Inilah yang membuat Imam Malik ragu tentang kebenaran matan (isi) hadits tersebut, sebagai yang ia tulis dalam kitabnya Al-Muwath-tha jilid 1, halaman 311:

“Kami mendengar Malik berkata bahwa sesungguhnya dia tidak melihat seorang ahli ilmu dan ahli fiqih yang pernah melaksanakan puasa itu. Dan tidak sampai padanya kabar tentang pelaksanaannya dari seorang salaf (sahabat dan tabi’in). Dan sesungguhnya ulama memakruhkan itu, takut kalau menjadi bid’ah atau dianggap puasa itu sebagai lanjutan puasa Ramadhan oleh orang-orang yang kurang pemahamannya, bila diberi kelonggaran atau izin dari ulama untuk mengerjakannya atau melihat ulama sendiri yang mengerjakannya.”

Keterangan Imam Malik ini adalah hasil dari penyelidikannya yang cukup cermat. Dasar hukum mazhabnya adalah mengharuskan adanya penyelidikan lebih dahulu sebaik-baiknya, apakah setiap anjuran Nabi yang besar pahalanya itu diamalkan oleh penduduk Madinah ataukah tidak. Ulama salaf kita menggemari puasa sebagai ibadah, malah sampai ada yang berlebih-lebihan, maka bila benar puasa enam hari di bulan Syawal itu adalah anjuran Nabi, tidak mungkin tidak ada yang mengerjakannya. Maka seharusnyalah penyelidikan Imam Malik ini menjadi bahan pertimbangan untuk menilai hadits tersebut, meskipun sifatnya ‘aqli, bukan naqli.

Kami cenderung untuk menyetujui apa yang diterangkan oleh Imam Malik.

* Ustadz Umar Salim Hubeis (1904-1979) adalah salah satu ulama besar Al-Irsyad, murid langsung Syekh Ahmad Surkati, pendiri Al-Irsyad. Beliau juga salah satu pendiri MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) dan aktif sebagai anggota GAPI (Gabungan Politik Indonesia) mewakili MIAI. Mantan anggota Konstituante dan DPR RI  (1959).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: