Debat Ahmad Surkati dan Semaun

Debat Syekh Ahmad Surkati dan Semaun (SI Merah)

Di tengah-tengah suasana Muktamar Islam di Cirebon, diadakan perdebatan antara Al-Irsyad dan Syarekat Islam Merah, dengan tema: “Dengan apa Indonesia ini bisa merdeka. Dengan Islamisme kah atau Komunisme?” Al-Irsyad diwakili oleh Syekh Ahmad Surkati, Umar Sulaiman Naji dan Abdullah Badjerei, sedang SI Merah diwakili Semaun, Hasan, dan Sanusi.

Selaku penganut paham Pan Islam, tentu Syekh Ahmad Surkati bertahan dengan Islamisme. Semaun berpendirian, hanya dengan komunisme lah Indonesia bisa merdeka. Dua jam perdebatan berlangsung, tidak ditemukan titik temu. Namun Syekh Ahmad Surkati ternyata menghargai positif pendirian Semaun. “Saya suka sekali orang ini, karena keyakinannya yang kokoh dan jujur bahwa hanya dengan komunisme lah tanah airnya dapat dimerdekakan!”

Peristiwa ini sekaligus membuktikan bahwa para pemimpin Al-Irsyad pada tahun 1922 sudah berbicara masalah kemerdekaan Indonesia!

Advertisements

Bung Tomo tentang Al-Irsyad

“SAYA KENAL AL-IRSYAD SEJAK SAYA KANAK-KANAK”

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Merdeka!

Menyambut seorang teman yang sedang menghadapi saat-saat bahagia, terutama untuk menyampaikan isi hati, sesungguhnya adalah berat. Berat oleh karena kekhawatiran bahwa kata-kata yang diucapkan adalah tidak sepadan dengan apa yang terkandung di dalam hati, khawatir bila yang diucapkan itu tidak sesungguhnya menggambarkan sepenuhnya segenap kegembiraan atau rasa ikut gembira yang hendak dicurahkan.

Demikian pula perasaan saya waktu diminta oleh Pimpinan Pusat Pemuda Al-Irsyad untuk memberikan sambutan pada Musyawarah Kerja mereka yang hendak diadakan di Surabaya sekarang ini.

Sebab gerakan Al-Irsyad saya kenal sejak saya kanak-kanak sebagai suatu gerakan yang senantiasa dapat menyesuaikan diri dengan segenap gelombang perjuangan bangsa Indonesia, sejak dalam usaha-usaha untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan Belanda sampai pada waktu mempertahankan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 dan selanjutnya.

Alhamdulilah, dengan sikap serta usahanya yang demikian itu, Al-Irsyad telah membikin dirinya bukan orang asing di bumi Indonesia yang tercinta ini.

Kini negara kita, Republik Indonesia, sedang menghadapi saat-saat yang menentukan, sesudah ALLAH SWT telah menghindarkan kita dari cengkeraman partai laknat PKI.
Continue reading

Hisab dan Rukyat

FATAWA UMAR HUBEIS

PENGGUNAAN HISAB DAN RUKYAT

Rasulullah saw. telah menetapkan awal bulan Ramadhan dan awal bulan Syawal dengan rukyat. Beliau bersabda,

Kita adalah suatu umat yang bodoh, tidak pandai menulis dan tidak pandai menghitung (hisab) bahwa satu bulan adakalanya 29 hari atau 30 hari.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar al-Asqalani menerangkan bahwa yang dimaksud dengan kata “kita” dalam hadits di atas adalah kaum muslimin pada masa itu, saat beliau mengucapkan sabda itu. Kebanyakan mereka buta huruf dan tidak mengerti perhitungan (Fathul Baari IV hal. 89).

Rasulullah saw. bersabda,

Janganlah kamu berpuasa hingga kamu melihat bulan. Dan jangan kamu berbuka hingga kamu melihat bulan. Maka apabila terhalang (tertutup oleh kabut), kirakanlah.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar menerangkan bahwa yang dimaksud dengan kata “kirakanlah” di atas adalah: perhitungkanlah, hisablah peredaran bulan itu (hisabul manazil). Demikianlah penafsiran sebagian ulama, seperti yang tertera dalam kitab Fathul Baari IV hal. 86.

Kebanyakan ulama mempergunakan rukyat lantaran dua hadits Rasulullah saw. di atas serta hadits-hadits lain. Memang begitu kenyataan yang berlaku pada zaman Nabi.

Namun demikian, ada pula ulama yang menjadikan dua hadits itu sebagai pendorong untuk berilmu, agar kemudian dapat menentukan permulaan bulan dengan hisab, tidak lagi dengan rukyah yang ada kalanya salah. Sebaliknya hisab itu dianggap ilmu yakin, qath’i, bukan zhanni seperti rukyah itu.
Continue reading

Umar Hubeis

Al-Ustadz UMAR SALIM HUBEIS

UMAR SALIM HUBEIS lahir diJakarta, 22 Shafar 1322 H, bertepatan dengan 8 Mei 1904 M. Berijazah Madrasah al-Mu’allimin Al-Irsyad Jakarta dan praktek mengajar dibawah bimbingan guru beliau, asy-Syeikh Ahmad as-Surkati al-Anshari. Pada tahun 1922 beliau menjabat Kepala Madrasah Al-Irsyad Surabaya. Sejak itu beliau menetap diSurabaya.

Umar Hubeis dikenal sebagai salah seorang pendiri Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), dan aktif sebagai anggota Gabungan Politik Indonesia (GAPI) dari unsur MIAI. Tahun 1947 ia tercatat sebagai anggota Komite Nasional Pusat (KNP), dan sepuluh tahun kemudian terpilih sebagai anggota Konstituante, juga anggota Parlemen (DPR) RI (1959).

Ia ikut mendirikan Yayasan Perguruan Tinggi Surabaya pimpinan Gubernur Samadikun pada tahun 1957. Yayasan ini lah yang mendirikan Fakultas Hukum, yang merupakan cikal bakal Fakultas Hukum Universitas Airlangga. Pernah menjabat sebagai guru besar pada Universitas Al-Irsyad di Surakarta, Fakultas Hukum dan Ekonomi Universitas Airlangga, Institut Teknologi Surabaya (ITS), Perguruan Tinggi Dakwah Islamiyyah (PTDI) dan Fakultas Hukum Agama Jurusan Da’wah (FIAD) dari Universitas Muhammadiyah.

Umar Hubeis dikenal sebagai seorang ulama dan mubaligh yang mengutamakan dakwah billati hiya ahsan berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Ia pernah menjabat wakil ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) perwakilan Jawa Timur, Ketua Majelis Ifta’ wat Tarjih Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah (Jakarta) selama lebih dari 30 tahun, anggota Majelis Tarjih Indonesia Muhammadiyah Jawa Timur, anggota LIPPA (Lembaga Ilmu Pelajaran dan Pendidikan Agama) pada perguruan tinggi negeri (PTN). Di samping itu beliau adalah Lektor penataran Bahasa Arab pada Ittihad al-Ma’aahid al-Islamiyyah Jatim, anggota staf ahli pada Bimbingan Perkawinan Prov. Jawa Timur.

Hari Selasa, 10 Dzulqaidah 1399 (2 Oktober 1979) beliau berpulang ke rahmatullah.

Syekh Ahmad Surkati

SYEIKH AHMAD SURKATI AL-ANSHARI

(Pendiri Al-Irsyad Al-Islamiyyah)

Syekh Ahmad Surkati

 

SYEIKH AHMAD SURKATI adalah tokoh utama berdirinya Jam’iyat al-Islah wa Al-Irsyad al-Arabiyah (kemudian berubah menjadi Jam’iyat al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah), atau disingkat dengan nama Al-Irsyad. Banyak ahli sejarah mengakui perannya yang besar dalam pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia, namun sayang namanya tak banyak disebut dalam wacana sejarah pergulatan pemikiran Islam di Indonesia.

Sejarawan Deliar Noer menyatakan Ahmad Surkati “memainkan peran penting” ebagai mufti. Sedang sejarawan Belanda G.F. Pijper menyebut dia “seorang pembaharu Islam di Indonesia.” Pijper juga menyebut Al-Irsyad sebagai gerakan pembaharuan yang punya kesamaan dengan gerakan reformasi di Mesir, sebagaimana dilakukan Muhammad Abduh dan Rashid Ridha lewat Jam’iyat al-Islah wal Irsyad (Perhimpunan bagi Reformasi dan Pimpinan).

Sejarawan Abubakar Aceh menyebut Syeikh Ahmad Surkati sebagai pelopor gerakan salaf di Jawa.

Peneliti Howard M. Federspiel menyebut Syekh Ahmad Surkati sebagai “penasehat awal pemikiran Islam fundamental di Indonesia”. Dan menurutnya, pendiri Persatuan Islam (Persis), Haji Zamzam dan Muhammad Yunus, adalah sahabat karib Syekh Ahmad Surkati.
Continue reading

PUASA SYAWAL ENAM HARI, Sunnah atau Bid’ah?

FATAWA UMAR HUBEIS

PUASA SYAWAL ENAM HARI, Sunnah atau Bid’ah?

Pertanyaan:

“Apa hukum puasa Syawal yang enam hari itu? Wajib, sunnah, atau malah bid’ah? Bagaimana pula bila puasa itu dilakukan secara berturut-turut (mutatabi’) selama enam hari?

Jawab:

Umat Islam di Indonesia menganggap puasa enam hari pada bulan Syawal sesudah berlalunya bulan Ramadhan itu adalah sunnah muakkadah, karena puasa wajib itu hanya di bulan Ramadhan saja. Alasan mereka adalah sebuah hadits Nabi saw. berikut.

Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan dia puasa dahr.” (HR. Muslim)

Puasa dahr adalah puasa tiap hari atau tiap dua hari sekali. Perhitungannya adalah: 30 hari Ramadhan ditambah 6 hari Syawal = 36 hari x 10 kali pahala = 360, yaitu jumlah hari dalam setahun.

Adapun cara pelaksanaannya boleh secara mutatabi’ (berturut-turut) karena lebih afdhal, tetapi boleh juga tidak secara mutatabi’, yaitu dilaksanakan pada permulaan, pada pertengahan dan pada akhir Syawal, karena lafaz haditsnya ‘aam (umum), tidak ditentukan cara atau waktu pastinya dalam bulan Syawal. Inilah pendapat Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan lainnya.

Namun, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah serta beberapa lainnya menganggap puasa itu bukan sunnah, karena tiga alasan:

Pertama, bagi mereka hadits tersebut belum sah (tiap hadits selain sah sanadnya juga harus sah matannya).

Kedua, Nabi dan para sahabatnya belum pernah mengerjakannya.

Dan ketiga, dikhawatirkan akan menimbulkan pengertian di kalangan masyarakat bahwa puasa enam hari itu merupakan terusan dari puasa wajib Ramadhan.

Maka dari itu mereka menganggap puasa enam hari bulan Syawal ini sebagai bid’ah idhafiyah. Puasa adalah ibadah, karena itu janganlah ditentukan waktunya kalau memang tidak ada ketentuan dari Nabi. Keterangan ini didasarkan atas belum sahnya matan hadits tersebut.

Di dalam kitab Bidayatul Mujtahid (Ibnu Rusyd) disebutkan bahwa Imam Malik memakruhkan puasa itu, karena dikhawatirkan menimbulkan kesalahpahaman orang, dikira puasa enam hari itu adalah lanjutan dari puasa wajib, atau karena tidak sampai padanya kabar hadits atau tidak menganggap hadits itu sebagai hadits shahih. Inilah yang lebih azh-har (nyata), demikian akhir keterangan itu.

Kami menyetujui pendapat Ibnu Rusyd, penulis kitab Bidayatul Mujtahid itu, bahwa hadits itu belum sah menurut Imam Malik. Sebab, beliau telah menyelidiki kenyataan pelaksanaannya di kota Madinah, tempat dimana Nabi saw. dan para sahabatnya serta para tabi’in hidup. Beliau tidak memperoleh kabar tentang adanya realisasi puasa itu. Inilah yang membuat Imam Malik ragu tentang kebenaran matan (isi) hadits tersebut, sebagai yang ia tulis dalam kitabnya Al-Muwath-tha jilid 1, halaman 311:

“Kami mendengar Malik berkata bahwa sesungguhnya dia tidak melihat seorang ahli ilmu dan ahli fiqih yang pernah melaksanakan puasa itu. Dan tidak sampai padanya kabar tentang pelaksanaannya dari seorang salaf (sahabat dan tabi’in). Dan sesungguhnya ulama memakruhkan itu, takut kalau menjadi bid’ah atau dianggap puasa itu sebagai lanjutan puasa Ramadhan oleh orang-orang yang kurang pemahamannya, bila diberi kelonggaran atau izin dari ulama untuk mengerjakannya atau melihat ulama sendiri yang mengerjakannya.”

Keterangan Imam Malik ini adalah hasil dari penyelidikannya yang cukup cermat. Dasar hukum mazhabnya adalah mengharuskan adanya penyelidikan lebih dahulu sebaik-baiknya, apakah setiap anjuran Nabi yang besar pahalanya itu diamalkan oleh penduduk Madinah ataukah tidak. Ulama salaf kita menggemari puasa sebagai ibadah, malah sampai ada yang berlebih-lebihan, maka bila benar puasa enam hari di bulan Syawal itu adalah anjuran Nabi, tidak mungkin tidak ada yang mengerjakannya. Maka seharusnyalah penyelidikan Imam Malik ini menjadi bahan pertimbangan untuk menilai hadits tersebut, meskipun sifatnya ‘aqli, bukan naqli.

Kami cenderung untuk menyetujui apa yang diterangkan oleh Imam Malik.

* Ustadz Umar Salim Hubeis (1904-1979) adalah salah satu ulama besar Al-Irsyad, murid langsung Syekh Ahmad Surkati, pendiri Al-Irsyad. Beliau juga salah satu pendiri MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) dan aktif sebagai anggota GAPI (Gabungan Politik Indonesia) mewakili MIAI. Mantan anggota Konstituante dan DPR RI  (1959).

Wajib Tidak Puasa

Fatawa Umar Hubeis:

WAJIB TIDAK PUASA

Pertanyaan:

“Seorang pasien dilarang dokter untuk tidak berpuasa karena sakit maag atau penyakit lain. Namun dia tetap berpuasa, dan akhirnya ia meninggal. Mohon penjelasan.”

Jawab:

Apabila si pasien percaya kebenaran keterangan dokter itu, lalu dia melanggar perintahnya sampai ia binasa, ia dianggap sudah melanggar hukum dan membunuh dirinya sendiri. Sebab, Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an:

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (al-Baqarah: 195)

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (an-Nisaa’: 28)

Maka, barangsiapa meninggalkan sesuatu yang mubah (boleh) sehingga dia mati, dia dianggap telah melanggar hukum, membunuh dirinya sendiri dan berdosa.

Demikian ijma’ ulama. (Ahkamul Qur’an, oleh al-Jashash)